Technotribe – Dunia pasar modal global kembali diguncang oleh kabar miring yang menerpa salah satu konglomerat terbesar di Asia. Kekaisaran bisnis milik Gautam Adani, Grup Adani, kembali berada di bawah tekanan jual yang masif. Saham-saham perusahaan di bawah naungan grup asal India ini berguguran di bursa saham Mumbai setelah muncul laporan bahwa Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (US Securities and Exchange Commission/SEC) tengah meningkatkan intensitas penyelidikannya.
Kabar mengenai rencana pemanggilan Gautam Adani oleh regulator AS ini menjadi katalis negatif utama yang memicu kekhawatiran investor mengenai tata kelola perusahaan (corporate governance) dan transparansi grup tersebut. Artikel ini akan mengulas tuntas penyebab rontoknya saham Grup Adani, poin-poin krusial dalam penyelidikan SEC, serta dampak sistemik yang ditimbulkannya terhadap pasar saham India.
Kronologi Jatuhnya Harga Saham Grup Adani

Aksi jual melanda hampir seluruh lini bisnis Grup Adani tak lama setelah berita mengenai potensi pemanggilan Gautam Adani oleh SEC mencuat ke publik. Saham unit utama mereka, Adani Enterprises, mengalami koreksi tajam hingga lebih dari 5%, diikuti oleh unit energi dan infrastruktur lainnya seperti Adani Ports dan Adani Green Energy.
Pasar merespons dengan kepanikan (panic selling) karena investor menganggap keterlibatan SEC menandakan adanya risiko hukum yang lebih besar dibandingkan penyelidikan domestik di India. Dalam satu sesi perdagangan, kapitalisasi pasar grup ini menguap hingga miliaran dolar AS. Hal ini mengingatkan publik pada skandal Hindenburg Research setahun silam yang sempat melumpuhkan nilai pasar grup ini hingga lebih dari US$ 100 miliar. Sentimen negatif ini dengan cepat merembet ke sektor perbankan India yang diketahui memiliki eksposur pinjaman besar terhadap grup tersebut.
Fokus Penyelidikan SEC: Dugaan Penyuapan dan Misleading Investor
Inti dari tekanan yang dihadapi Gautam Adani saat ini berkaitan dengan penyelidikan otoritas AS terhadap potensi pelanggaran undang-undang anti-korupsi. SEC, bersama dengan Departemen Kehakiman AS (DOJ), dikabarkan tengah mendalami apakah ada aliran dana ilegal atau penyuapan yang dilakukan oleh entitas Grup Adani kepada pejabat di India untuk mengamankan proyek-proyek energi tertentu.
Penyelidikan FCPA (Foreign Corrupt Practices Act)
Otoritas AS memiliki wewenang menyelidiki perusahaan asing melalui Foreign Corrupt Practices Act (FCPA) jika perusahaan tersebut memiliki keterkaitan dengan sistem keuangan AS atau memperdagangkan sekuritas di bursa AS. Dalam kasus Adani, banyak obligasi grup ini yang dimiliki oleh investor institusi Amerika Serikat.
Dugaan Pernyataan Palsu kepada Investor
Selain masalah suap, SEC fokus pada apakah Grup Adani memberikan pernyataan yang menyesatkan (misleading) kepada investor AS mengenai kepatuhan hukum dan transaksi pihak berelasi. Jika terbukti bahwa Gautam Adani atau eksekutif seniornya mengetahui adanya praktik ilegal namun tetap mempromosikan saham mereka sebagai investasi yang aman, hal ini akan dikategorikan sebagai penipuan sekuritas berat.
Profil Gautam Adani, Dari Raja Infrastruktur ke Pusaran Skandal

Gautam Adani bukan sekadar pengusaha; ia adalah simbol kebangkitan infrastruktur modern India. Memulai karier sebagai pedagang berlian, ia membangun imperium yang mencakup pelabuhan, bandara, pertambangan batu bara, hingga energi terbarukan. Kedekatannya dengan pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi sering kali menjadi sorotan, baik sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi maupun sebagai sasaran kritik mengenai kronisme.
Namun, dalam dua tahun terakhir, citra “tak tersentuh” tersebut mulai retak. Pemanggilan oleh SEC—seorang regulator asing yang dikenal sangat ketat dan independen—menempatkan Adani pada posisi yang sangat sulit. Bagi pasar, ini bukan lagi sekadar serangan dari “penjual kosong” (short seller) seperti Hindenburg, melainkan intervensi resmi dari salah satu regulator paling kuat di dunia.
Dampak Terhadap Stabilitas Pasar Saham India
Grup Adani memiliki bobot yang signifikan dalam indeks saham acuan India, seperti Nifty 50 dan Sensex. Ketika saham Adani rontok, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh keluarga Adani, tetapi juga oleh jutaan investor ritel dan dana pensiun di India.
-
Tekanan pada Sektor Perbankan: Bank-bank milik negara (PSU Banks) di India memiliki eksposur kredit yang besar ke Grup Adani. Penurunan nilai aset Adani memicu kekhawatiran akan meningkatnya risiko kredit dan potensi gagal bayar obligasi.
-
Sentimen Investor Asing (FPI): Investor asing sering kali melihat Grup Adani sebagai barometer tata kelola korporat di India secara keseluruhan. Berlanjutnya skandal hukum ini dapat memicu aliran modal keluar (capital outflow) dari bursa India ke pasar negara berkembang lainnya yang dianggap lebih stabil secara regulasi.
-
Valuasi Premium yang Terkikis: Selama ini, saham Adani diperdagangkan dengan rasio harga terhadap laba (Price-to-Earnings Ratio) yang sangat tinggi. Skandal hukum ini memaksa pasar melakukan penilaian ulang (re-rating) terhadap valuasi tersebut.
Respons Grup Adani: Bantahan dan Pembelaan Hukum
Menghadapi serangan pasar dan kabar penyelidikan SEC, Grup Adani melalui juru bicaranya secara konsisten membantah segala tuduhan pelanggaran hukum. Mereka menegaskan bahwa seluruh operasi bisnis grup dijalankan dengan kepatuhan tinggi terhadap hukum yang berlaku di tiap wilayah operasi.
Grup Adani mengklaim bahwa mereka telah memberikan transparansi penuh kepada otoritas terkait dan siap menghadapi proses hukum apa pun untuk membersihkan nama baik perusahaan. Mereka juga menekankan bahwa fundamental bisnis—seperti arus kas dan pendapatan operasional—tetap kuat di tengah gejolak harga saham. Tim hukum Adani di AS dikabarkan tengah bersiap untuk merespons permintaan informasi dari SEC guna menghindari eskalasi yang lebih buruk ke meja hijau.
Proyeksi Masa Depan, Akankah Ada Penyelesaian Damai?

Dalam sejarah penyelidikan SEC terhadap korporasi besar, ada dua kemungkinan besar yang bisa terjadi. Pertama, penyelesaian di luar pengadilan (settlement) di mana perusahaan membayar denda yang signifikan tanpa mengakui atau membantah kesalahan. Kedua, tuntutan pidana yang dapat berujung pada sanksi larangan bagi individu untuk menjabat sebagai direktur di perusahaan publik.
Bagi Gautam Adani, langkah ke depan akan sangat bergantung pada seberapa kuat bukti yang dimiliki SEC. Jika mereka berhasil menunjukkan bukti adanya aliran dana ilegal, maka restrukturisasi besar-besaran di tubuh Grup Adani menjadi hal yang tak terelakkan. Di sisi lain, jika penyelidikan ini gagal membuktikan adanya unsur pidana, ini bisa menjadi momen comeback yang luar biasa bagi stabilitas saham grup tersebut.
Ujian Berat Bagi Tata Kelola Korporat Asia
Kasus rontoknya saham Grup Adani akibat penyelidikan SEC menjadi pengingat keras bahwa di era pasar modal yang terintegrasi secara global, tidak ada perusahaan yang terlalu besar untuk diawasi. Transparansi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk mempertahankan kepercayaan investor.
Gautam Adani kini menghadapi ujian terberat dalam karier bisnisnya. Apakah ia akan berhasil menavigasi badai hukum ini, ataukah krisis ini akan menandai berakhirnya dominasi absolut Grup Adani di panggung ekonomi dunia? Yang pasti, volatilitas saham Adani masih akan berlanjut selama kepastian hukum dari otoritas AS belum terbit.

