Technotribe – Dalam lanskap ekonomi global yang terus berubah, isu keberlanjutan dan perubahan iklim bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan mendesak. Di Indonesia, salah satu tokoh yang paling vokal menyuarakan pentingnya perubahan paradigma ini adalah Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Sunarso. Dalam berbagai forum strategis pada tahun 2026 ini, CEO BRI tersebut menegaskan sebuah pesan kuat: Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) adalah motor utama transisi ekonomi hijau di Indonesia.
Pandangan ini didasarkan pada fakta bahwa UMKM merupakan tulang punggung ekonomi nasional yang mencakup lebih dari 90% unit usaha di Indonesia. Jika transisi ekonomi hijau hanya menyasar korporasi besar, maka dampak transformasi tersebut tidak akan menyentuh akar rumput. Oleh karena itu, memberdayakan UMKM untuk mengadopsi praktik ramah lingkungan adalah kunci keberhasilan target Net Zero Emission Indonesia.
CEO BRI, Urgensi Ekonomi Hijau bagi Sektor UMKM

Ekonomi hijau bukan lagi sekadar cara untuk menyelamatkan planet, tetapi juga strategi untuk bertahan di pasar masa depan. Menurut CEO BRI, ada beberapa alasan mengapa UMKM harus segera beralih ke praktik hijau. Pertama, tuntutan pasar global kini lebih mengutamakan produk-produk yang memiliki jejak karbon rendah dan proses produksi yang etis. UMKM yang tidak beradaptasi akan kesulitan menembus pasar ekspor.
Kedua, efisiensi sumber daya. Praktik ekonomi hijau, seperti pengelolaan limbah yang baik dan penggunaan energi terbarukan skala mikro, justru dapat menekan biaya operasional dalam jangka panjang. “Hijau bukan berarti mahal. Hijau berarti efisien dan berkelanjutan,” ujar Sunarso dalam sebuah simposium perbankan.
Peran Perbankan dalam Mendukung UMKM Hijau
Sebagai bank yang memiliki fokus utama pada sektor UMKM, BRI menyadari bahwa tantangan terbesar bagi pelaku usaha kecil untuk beralih ke ekonomi hijau adalah akses pemodalan dan pengetahuan. Di bawah kepemimpinan Sunarso, BRI telah meluncurkan berbagai inisiatif strategis untuk menjembatani celah ini.
Penyaluran Kredit Berkelanjutan (Sustainable Financing)
Hingga tahun 2026, porsi kredit berkelanjutan atau Green Loan di BRI terus menunjukkan peningkatan yang signifikan. BRI tidak hanya memberikan pinjaman, tetapi juga memberikan insentif berupa suku bunga yang lebih kompetitif bagi UMKM yang memiliki sertifikasi ramah lingkungan atau yang usahanya bergerak di bidang pengolahan limbah dan energi terbarukan.
Pendampingan dan Edukasi
CEO BRI menekankan bahwa uang saja tidak cukup. Pelaku UMKM membutuhkan literasi mengenai apa itu ekonomi hijau. BRI melalui program “Mantri” di seluruh pelosok negeri berperan sebagai agen perubahan yang mengedukasi pedagang pasar, pengrajin, hingga petani mengenai pentingnya menjaga ekosistem lingkungan dalam menjalankan bisnis.
Inovasi Teknologi sebagai Enabler Transisi Hijau

Transisi ekonomi hijau tidak dapat dipisahkan dari transformasi digital. CEO BRI menjelaskan bahwa digitalisasi proses bisnis UMKM secara otomatis berkontribusi pada pengurangan emisi karbon. Penggunaan aplikasi mobile banking seperti BRImo dan platform pasar digital meminimalkan mobilitas fisik dan penggunaan kertas (paperless).
Lebih jauh lagi, BRI memanfaatkan analisis data besar (big data) untuk memetakan UMKM mana yang memiliki potensi terbesar untuk bertransformasi menjadi unit usaha hijau. Dengan teknologi, pemantauan terhadap dampak lingkungan dari setiap kredit yang disalurkan menjadi lebih transparan dan terukur. Ini sangat penting untuk memenuhi standar pelaporan Environmental, Social, and Governance (ESG) yang berlaku secara internasional.
Tantangan dalam Menggerakkan Motor Ekonomi Hijau
Meskipun potensi UMKM sangat besar, Sunarso mengakui bahwa jalan menuju ekonomi hijau penuh dengan tantangan. Salah satu hambatan utama adalah biaya investasi awal. Misalnya, mengganti mesin produksi tua dengan mesin yang lebih hemat energi membutuhkan biaya yang tidak sedikit bagi pengusaha kecil.
Selain itu, standarisasi produk hijau di Indonesia masih dalam tahap pengembangan. Banyak pelaku UMKM yang sudah melakukan praktik ramah lingkungan namun belum memiliki sertifikasi resmi karena prosedur yang dianggap rumit. Di sinilah CEO BRI mendorong adanya kolaborasi antara pemerintah, perbankan, dan lembaga sertifikasi untuk menyederhanakan proses bagi UMKM agar mereka merasa “diuntungkan” saat memilih jalur hijau.
Kolaborasi Ekosistem: Kunci Keberhasilan Transisi
Dalam visi Sunarso, BRI tidak bisa berjalan sendirian. Transisi ekonomi hijau memerlukan ekosistem yang solid. Hal ini melibatkan integrasi antara kebijakan pemerintah (seperti insentif pajak hijau), dukungan teknologi dari startup, dan kesadaran konsumen untuk membeli produk lokal yang ramah lingkungan.
BRI telah memulai kolaborasi dengan berbagai kementerian untuk menciptakan rantai pasok hijau. Contohnya, petani binaan BRI didorong untuk menggunakan pupuk organik dan teknik pertanian presisi yang mengurangi penggunaan air. Hasil panen mereka kemudian dihubungkan dengan jaringan hotel atau restoran yang memiliki komitmen serupa terhadap lingkungan. Ini adalah bentuk nyata dari ekonomi sirkular yang dicitakan oleh CEO BRI.
Masa Depan Indonesia, Pertumbuhan yang Inklusif dan Berkelanjutan

Menutup pernyataannya, CEO BRI Sunarso menegaskan bahwa keberhasilan Indonesia di masa depan tidak hanya diukur dari angka Produk Domestik Bruto (PDB), tetapi dari seberapa berkualitas pertumbuhan tersebut. UMKM yang naik kelas bukan lagi sekadar naik kelas secara omzet, melainkan juga naik kelas dalam tanggung jawab moral terhadap lingkungan.
“Jika UMKM kuat secara ekonomi dan sehat secara lingkungan, maka fondasi negara kita akan tak tergoyahkan,” pungkasnya. Transisi ekonomi hijau yang motor utamanya adalah UMKM akan memastikan bahwa kekayaan alam Indonesia dapat dinikmati oleh generasi-generasi mendatang tanpa mengorbankan kesejahteraan masyarakat saat ini.
Kesimpulan
Pandangan CEO BRI mengenai UMKM sebagai motor utama transisi ekonomi hijau memberikan optimisme baru bagi pembangunan Indonesia. Dengan dukungan pembiayaan yang tepat, edukasi yang konsisten, dan pemanfaatan teknologi, UMKM memiliki peluang besar untuk memimpin perubahan. Masa depan ekonomi hijau Indonesia kini berada di tangan jutaan pelaku usaha kecil yang setiap harinya menggerakkan roda ekonomi bangsa.

